Maret, 2014.
Kumandang
adzan subuh membangunkanku. Dengan sedikit malas aku membuka mataku.
Sayup-sayup terdengar suara Weli dan Triya bercengkrama diruang tamu. Aku duduk
dipinggir tempat tidur, mengumpulkan tenaga untuk segera menunaikan
kewajibanku.
Pagi
itu, seperti biasa, aku dan dua rekanku bersiap untuk berangkat ke kampus. Kami
bertiga adalah anak rantau yang sedang mengasah ilmu di ibukota. Berjumpa
disatu kampus dan menetap disatu rumah yang kami sewa bersama. Weli yang
tertutup namun dewasa diantara kami, Triya yang umurnya paling muda dan paling
manja, dan aku, Adhiya si tukang galau.
Suara
riuh anak-anak menggema di selasar ruang kelas. Seperti biasa, bila tak ada
dosen yang hadir, maka semua akan sibuk dengan urusannya masing-masing. Aku
sedang asik duduk di kursi taman depan kelas sambil memainkan handphoneku.
Tiba-tiba, ada panggilan masuk dari nomor tidak dikenal. Ku diamkan telfon itu,
tak ku hiraukan. Namun deringnya tak berhenti.
Dengan
sedikit malas, kupencet tombol jawab,
terdengar suara laki-laki yang tak asing bagiku. Iya benar, ini suara David.
Dua tahun lalu aku mengenal David, melalui kawan sekolahku. David, bertubuh
tinggi, dengan wajah yang lumayan, kuliah di salah satu universitas swasta di
ibukota ini. Satu bulan berkenalan, kami semakin dekat, dan dia menyatakan
cinta kepadaku. Enam bulan kemudian dia menghilang tanpa kata, tanpa
penjelasan, bahkan nomor handphone nya pun tak bisa dihubungi lagi. Aku
bingung, salahku dimana sampai David pergi hilang tanpa jejaknya. Semua
kawan-kawannya aku hubungi pun tak bisa. Hanya Enam bulan, tapi membuatku galau
ber-tahunan.
Harus
ku akui, wajahku sumringah saat tau David menghubungiku lagi. Jantungku
berdegup kencang tak henti. Senyumku tak memudar satu hari itu. Apalagi saat
tau, David akan datang menemuiku sore nanti, setelah jam pulang kuliah.
Anganku
bergerilya kemana-mana, mengingat-ingat kisah satu tahun lalu, yang walau hanya
enam bulan bersama, tapi mengukir cerita yang cukup terkesan indah. Apakah dia
masih suka membawa coklat seperti dulu, atau menelpon berjam-jam tanpa putus
bila tak bertemu, ataukah tiba-tiba datang saat aku sedang berantakan?,
entahlah. Aku hanya berharap dia tak kan pergi meninggalkanku lagi. Namun
tiba-tiba aku tersadar akan sesuatu. Ega. Dia adalah seseorang bak pahlawan
yang menyelamatkan masa kelamku setelah ditinggal David pergi. Saat ini sudah
hampir enam bulan aku menjalin hubungan dengannya. Bagaimana ini? Bukankan aku
sudah mengutuk diriku sendiri untuk tidak berhubungan lagi dengan David, dan
saat ini aku merasakan bahagia yang teramat sangat ketika David menghubungiku
lagi, bahkan ingin menemuiku. Perasaanku mulai bercampur aduk. Hatiku mulai tak
tenang, pikiranku mulai menjalar kemana-mana. Aku ingin bercerita dengan Weli
dan Triya, apa tanggapan mereka mengetahui David ingin menemuiku lagi. aku
ingin bertanya, salahkah aku ingin menemuinya lagi???
“Kenapa,
Ya?” suara Weli membangunkan lamunanku. Ternyata dia sudah duduk di depanku
sedari tadi tanpa ku sadari. Aku menggeleng.
“Bener?”
tanyanya sekali lagi.
“Wel
... kalo seandainya ada orang yang lo tunggu-tunggu tiba-tiba dateng, gimana
perasaan Lo?” aku bertanya lirih.
Weli
memandangku. “Ya pasti seneng lah ... udah ditunggu-tunggu lama, ehh tiba-tiba
nongol, gak kebayang bahagianya,” jawabnya sambil tersenyum.
“Ohh,
iya. Pasti bakal seneng banget ....”
“Terus,
Lo mau ketemu siapa?” tanyanya sambil memandangku dengan senyum penuh curiga,
seolah-olah tahu apa yang terjadi denganku.
Aku
tersenyum. Mataku memandang jauh.
“David,”
ucapku dalam hati.