Senin, 02 Januari 2023

Dia Datang Lagi...

 

Maret, 2014.

 

Kumandang adzan subuh membangunkanku. Dengan sedikit malas aku membuka mataku. Sayup-sayup terdengar suara Weli dan Triya bercengkrama diruang tamu. Aku duduk dipinggir tempat tidur, mengumpulkan tenaga untuk segera menunaikan kewajibanku.

 

Pagi itu, seperti biasa, aku dan dua rekanku bersiap untuk berangkat ke kampus. Kami bertiga adalah anak rantau yang sedang mengasah ilmu di ibukota. Berjumpa disatu kampus dan menetap disatu rumah yang kami sewa bersama. Weli yang tertutup namun dewasa diantara kami, Triya yang umurnya paling muda dan paling manja, dan aku, Adhiya si tukang galau.

 

Suara riuh anak-anak menggema di selasar ruang kelas. Seperti biasa, bila tak ada dosen yang hadir, maka semua akan sibuk dengan urusannya masing-masing. Aku sedang asik duduk di kursi taman depan kelas sambil memainkan handphoneku. Tiba-tiba, ada panggilan masuk dari nomor tidak dikenal. Ku diamkan telfon itu, tak ku hiraukan. Namun deringnya tak berhenti.

 

Dengan sedikit malas, kupencet tombol jawab, terdengar suara laki-laki yang tak asing bagiku. Iya benar, ini suara David. Dua tahun lalu aku mengenal David, melalui kawan sekolahku. David, bertubuh tinggi, dengan wajah yang lumayan, kuliah di salah satu universitas swasta di ibukota ini. Satu bulan berkenalan, kami semakin dekat, dan dia menyatakan cinta kepadaku. Enam bulan kemudian dia menghilang tanpa kata, tanpa penjelasan, bahkan nomor handphone nya pun tak bisa dihubungi lagi. Aku bingung, salahku dimana sampai David pergi hilang tanpa jejaknya. Semua kawan-kawannya aku hubungi pun tak bisa. Hanya Enam bulan, tapi membuatku galau ber-tahunan.

 

Harus ku akui, wajahku sumringah saat tau David menghubungiku lagi. Jantungku berdegup kencang tak henti. Senyumku tak memudar satu hari itu. Apalagi saat tau, David akan datang menemuiku sore nanti, setelah jam pulang kuliah.

 

Anganku bergerilya kemana-mana, mengingat-ingat kisah satu tahun lalu, yang walau hanya enam bulan bersama, tapi mengukir cerita yang cukup terkesan indah. Apakah dia masih suka membawa coklat seperti dulu, atau menelpon berjam-jam tanpa putus bila tak bertemu, ataukah tiba-tiba datang saat aku sedang berantakan?, entahlah. Aku hanya berharap dia tak kan pergi meninggalkanku lagi. Namun tiba-tiba aku tersadar akan sesuatu. Ega. Dia adalah seseorang bak pahlawan yang menyelamatkan masa kelamku setelah ditinggal David pergi. Saat ini sudah hampir enam bulan aku menjalin hubungan dengannya. Bagaimana ini? Bukankan aku sudah mengutuk diriku sendiri untuk tidak berhubungan lagi dengan David, dan saat ini aku merasakan bahagia yang teramat sangat ketika David menghubungiku lagi, bahkan ingin menemuiku. Perasaanku mulai bercampur aduk. Hatiku mulai tak tenang, pikiranku mulai menjalar kemana-mana. Aku ingin bercerita dengan Weli dan Triya, apa tanggapan mereka mengetahui David ingin menemuiku lagi. aku ingin bertanya, salahkah aku ingin menemuinya lagi???

“Kenapa, Ya?” suara Weli membangunkan lamunanku. Ternyata dia sudah duduk di depanku sedari tadi tanpa ku sadari. Aku menggeleng.

“Bener?” tanyanya sekali lagi.

“Wel ... kalo seandainya ada orang yang lo tunggu-tunggu tiba-tiba dateng, gimana perasaan Lo?” aku bertanya lirih.

Weli memandangku. “Ya pasti seneng lah ... udah ditunggu-tunggu lama, ehh tiba-tiba nongol, gak kebayang bahagianya,” jawabnya sambil tersenyum.

“Ohh, iya. Pasti bakal seneng banget ....”

“Terus, Lo mau ketemu siapa?” tanyanya sambil memandangku dengan senyum penuh curiga, seolah-olah tahu apa yang terjadi denganku.

Aku tersenyum. Mataku memandang jauh.

“David,” ucapku dalam hati.

 

Dia Datang Lagi...

  Maret, 2014.   Kumandang adzan subuh membangunkanku. Dengan sedikit malas aku membuka mataku. Sayup-sayup terdengar suara Weli dan Tri...